o_1b75l89cagkb1lgo1klbfkcc1jm

Waspada, Toxic Productivity Bisa Rusak Kesehatan Tubuh Secara Tidak Terduga

Suara. com – Toxic Productivity merupakan konsep di mana produktivitas dengan dilakukan seseorang justru menyengsarakan kesehatan.

Tidak hanya kesehatan jiwa, psikolog mengatakan toxic productivity juga bisa merajai kesehatan fisik.

“Kondisi ini sangat melelahkan, tapi ditutup dengan logat ‘gue kuat, bisa nyata bisa’, nah kondisinya seperti itu. Karena itu perlu ingat sama badan sendiri, ” ungkap Psikolog Klinis Alma Anna Deasyana, M. Psi. lewat webinar Productive vs toxic productivity, baru-baru ini.

Ia juga mengatakan, perlu kenali tubuh sendiri, serupa kapan waktu istirahat zaman kelelahan.

Baca Juga: Catat! Kenali Ciri-ciri Toxic Productivity Pada Diri Kamu

“Kapan gue payah, kapan gue butuh reses, itu perlu kenal sama diri sendiri, ” ungkapnya.

Selain itu, menurut Perfomance Marketing Haloka Talks Kartika Bramastya, saat merasa bersalah di kondisi toxic productivity , ada tiga unsur yang silih terkait yaitu pikiran, hayat, dan kesehatan fisik.

“Perasaan bersalah dan obsesi tersebut, antara masuk ke picik atau jiwa. Tapi kita perlu ketahui soal fisik. Kalau sudah susah fokus, rungau, perubahan pola dahar, badan pegel, dan sering pusing, itu notifikasi awak kita. Jadi kita perlu refleks sama diri kita, ” paparnya.

Anna Deasyana melanjutkan, saat berada di kondisi kaya, tentu seseorang akan lebih nyaman dengan pekerjaannya, dibanding saat sedang berada pada kondisi toxic productivity .

Toxic productivity tidak hanya membuat tubuh penat, melainkan juga bisa menghasilkan diri seseorang stres & emosi yang tidak stabil. Seperti kurang puas dan rasa tidak berharga.

Baca Pula: Psikolog: Baik Tidak Bisa Datang Tunggal, Harus Diciptakan

“Kalau produktif, kita bisa mengamalkan itu dengan sangat aman, kreatif, pokoknya ngerjainnya tak ada paksaan. Kalau di toxic productivity , itu berasa banget, ” jelasnya.