22052-saraf-kejepit

Tak Semua Kasus Saraf Terjepit Harus Operasi, Ini Metode Lainnya

Suara. com – Meski terdengar mengerikan, namun tak semua peristiwa saraf terjepit perlu mendapatkan penanganan invasif seperti berdiam.

Hal itu dikatakan sebab dokter spesialis orthopedi & traumatologi dari Universitas Nusantara, dr. Asrafi Rizki Gatam, Sp. OT (K-Spine) serta dr. Omar Lutfi, Sp. OT.

Dikutip dari ANTARA, Minggu (29/8/2021), keduanya sepakat bahwa tak semua diagnosis saraf terjepit harus menjalani operasi ataupun pembedahan.

“Dilihat pasien bohlam pasien, karena tidak seluruh perlu operasi, ” prawacana Asrafi dalam sebuah webinar kesehatan mengenai tulang pungkur.

Membaca Juga: Mengenal Teknik Fakoemulsifikasi, Operasi Katarak Minim Sayatan

Ada sejumlah prosedur yang biasanya akan dilalui pasien, antara lain mengatasi rasa sakit melalui obat-obatan seperti penghilang rasa sakit (pain killer), anti-inflamasi, relaksan otot dan vitamin neurotropik untuk memberikan nutrisi pada saraf.

Selain itu, ada juga agenda rehabilitasi yang diberikan tabib spesialis rehab medik untuk meredakan sakit sekaligus memperkuat otot-otot punggung.

Hanya sekadar, menurut Omar, terkadang kedua upaya ini tak selalu bisa menyelesaikan masalah.

Karena itu diperlukan tindakan manajemen intervensi nyeri (IPM) yang minimal invasif atau meminimalkan luka iris seperti radiofrekuensi ablasi (RFA) dan memberikan laser di bantalan sendi yang menikmati kerusakan.

“Ini kelanjutan agenda yang lebih  advance  sebab pemberian obat-obatan dan rehabilitasi, meskipun semua itu sebetulnya suatu kesatuan yang sungguh harus dikerjakan pada penderita, ” tutur Omar.

Baca Juga: Pernah Komplikasi hingga Tersedak Darah, Model Ini Mengaku Tak Bisa Berhenti Oplas

Saraf terjepit atau Hernia Nukleus Pulposus (HNP) tak berlaku secara instan melainkan melalui proses perlahan yang umumnya diawali sakit pinggang kelanjutan sobekan di ligamen ataupun bantalan tulang belakang, kemudian ada komponen bantalan yang keluar dari posisinya sehingga menjepit bantalan.