76892-isolasi-mandiri-envato

Siapa Saja yang Harus Isolasi Mandiri? Ini Panduan dari Dokter

Suara. com – Varian virus corona baru, yakni varian Delta terdeteksi sudah menyebar di berbagai wilayah Nusantara. Berdasarkan data Badan Kesehatan tubuh Dunia (WHO), varian Delta dikenal juga dengan B. 1. 617. 2 & pertama kali teridentifikasi dalam India.

Perlu diketahui, varian Delta enam kali bertambah menular ketimbang varian Alpha yang pertama kali terlihat di Inggris. Ketua Ijmal PB IDI, dr. Daeng M. Faqih, pun menuturkan bahwa saat ini urusan Covid-19 di Indonesia mayoritas disebabkan oleh varian Delta.

“Varian Delta ini menghasilkan daya melempem lebih berat dan rawat inap 2 kali ganda. Berdasar kawan yang pada RS Persahabatan, dari 211 pasien Covid-19 yg merembes, 160 karena varian delta. Jadi sekarang hampir 80 persen kasus Covid-19 disebabkan oleh varian Delta, ” ujarnya dalam Webinar Panduan Isolasi Mandiri Lengkap untuk Keluarga, Jumat (16/7/2021) yang diselenggarakan Tokio Marine.

Dalam sisi lain, varian Delta ini juga ternyata mampu menginfeksi mereka yang dulunya dianggap tidak rentan, semacam usia dewasa muda & anak-anak.

Baca Juga: Pemerintah Putuskan PPKM Darurat Diperpanjang, Masyarakat Diminta Kerjakan Ini

Karena tersebut, perlu dilakukan tindakan pencegahan mengurangi penularan Covid-19, lengah satunya adalah dengan melakukan isolasi mandiri (isoman).

Membersihkan Hunian Sudah Digunakan Isolasi Mandiri. (Shutterstock)

Dengan isoman, seseorang yang terkena dapat menjaga kesehatan sekaligus mencegah menularkan Covid-19 ke orang lain. Terkait isoman, dr. Daeng menyebut kalau ada tiga kelompok yang harus melakukannya.

Pertama, adalah orang tanpa gejala (OTG). “Justru OTG ini banyak menularkan, sering disebut silent killer. Jadi OTG mampu menularkan ke orang lain untuk jatuh sakit. Walaupun tidak ada gejala, kudu isoman, ” jelasnya.

Yang kedua, ialah mereka yang bergejala ringan dengan PCR positif ataupun rapid antigen positif. Ke-3, mereka yang kontak baik dengan orang terinfeksi Covid-19. Kontak erat itu mampu berupa:

  • tatap muka/papasan dengan orang yang terinfeksi atau memiliki gejala, sinar 1 meter selama 15 menit
  • bersentuhan fisik
  • menyelenggarakan pasien tanpa APD penopang

Seharusnya isoman dilakukan pada 3 kelompok tersebut, namun karena kondisi sekarang di mana semua rumah sakit penuh, orang yang tak dapat tempat perawatan di RS terpaksa harus isolasi dalam rumah.

Baca Juga: PPKM Darurat Diperpanjang Had Akhir Juli, Menko PMK: Sudah Diputuskan Bapak Presiden

Kemudian isoman bisa disudahi dengan berpatokan dalam beberapa hal, yakni: