34754-perubahan-iklim

Semuanya Serba Tercemar, Begini Cerita Dampak Perubahan Iklim di dalam 2050

Suara. com – Perubahan kondisi seiring waktu akan semakin mambahayakan kehidupan semua makhluk hidup. Ilmuwan telah menghasilkan skenario terburuk dari perubahan iklim, yakni yang jadi terjadi pada 2050 mendatang.

Udara tercemar, membuat kita semua batuk. Kita kudu memeriksa kualitas udara terlebih dahulu sebelum membuka jendela.

Saat berangkat keluar, mata akan beruap dan kita harus menjalankan masker setiap hari. Jika hari sedang buruk, kita harus memakai masker berteknologi tinggi, itu pun kalau mampu membelinya.

Tergantung kediaman, suhu bisa mencapai 60 derajat Celcius selama lebih dari sebulan setiap tarikh. Di toilet umum, kita harus membayar mahal cuma untuk mengganti air.

Baca Pula: Demi Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca, Sarana Jaya Bagikan Beribu-ribu Lidah Mertua

Tersedia beban mental untuk hidup di dunia yang terasa seperti rintangan berbahaya. Orang-orang merasa putus asa & membenci generasi sebelumnya karena kurangnya tindakan pencegahan.

Gambaran perubahan iklim (Instagram/wmo_omm)

Skenario kasus terburuk ini adalah bagaimana kehidupan mau terjadi jika tidak ada kemajuan yang dibuat dalam memperlambat efek rumah cermin untuk mengurangi perubahan kondisi, menurut Christiana Figueres & Tom Rivett-Carnac dalam bukunya berjudul ” The Future We Choose: The Stubborn Optimist’s Guide to the Climate Crisis” .

Untuk menghindari masa pendahuluan seperti itu, Figueres dan Rivett-Carnac, dua arsitek pati Perjanjian Paris, mengatakan negeri harus memangkas setengah emisi gas rumah kaca di setiap 10 tahun.

“Jadi pengurangan 50 komisi pada 2030, 50 persen lagi pada 2040, 50 persen lagi pada 2050, ” kata Rivett-Carnac, dilansir CNBC .

Apabila hal itu dilakukan, masa depan pada 2050 akan menjadi sangat berbeda.

Baca Juga: Rumah Kaca Sayuran Hidroponik

“Jika kita dapat mendekarbonisasi ekonomi kita dengan segera, mendekati nol pada pertengahan abad, kita dapat memelihara planet yang layak menduduki dan ekonomi yang rajin pada saat yang sama, ” ujar Michael E. Mann, profesor ilmu atmosfer dalam Penn State.

Di periode depan, tulis Figueres & Rivett-Carnac, jalan-jalan kota akan memiliki lebih banyak pokok kayu dan lebih sedikit mobil.

Dibandingkan menggunakan bahan mengobarkan fosil, banyak negara bakal mengandalkan energi terbarukan, kaya angin, matahari, panas bumi, dan hidro. Sementara kecerdasan buatan dalam mesin & peralatan akan membuatnya lebih hemat energi.

“Udara mau menjadi lebih bersih daripada sebelum Revolusi Industri, ” tulis rekan penulis.

Orang-orang di masa depan serupa tidak akan makan keturunan atau susu. Bahkan, tingkatan mendatang tidak akan membenarkan bahwa generasi sebelumnya umum membunuh hewan untuk dimakan.

Manusia bakal makan produk yang bersumber secara lokal dari pertanian daripada berbelanja di gardu grosir besar.

“Di mana semuanya harus dikirim dari tempat yang jauh buat sampai ke toko, ” tulis Figueres dan Rivett-Carnac.

“Masa depan kita tak tertulis. Itu akan diciptakan oleh siapa yang kita pilih sekarang, ” pungkas mereka.