shutterstock_134183045

Risiko Kematian Tinggi, Waspada DBD di Tengah Pandemi!

Suara. com – Hangat Berdarah Dengue atau DBD masih menjadi masalah kesehatan tubuh yang meresahkan bagi kelompok Indonesia. Penyakit yang penularannya terjadi melalui nyamuk Aedes aegypti ini menimbulkan isyarat berupa demam, nyeri urat, nyeri sendi, ruam, leukopenia, dan limfadenopati.

Peneliti Etomologi Nyamuk dan Guru Luhur FKM Universitas Hassanuddin Prof. dr. Hasanuddin Ishak, MSc, PhD, pada acara Waspada Ancaman Demam Berdarah Dengue Di Tengah Pandemi COVID-19, Jumat (24/4/2021), menyebutkan secara klinis demam berdarah memiliki risiko kematian yang pas tinggi.

“Karena virusnya itu bekerja di dalam pembuluh darah, sehingga itu yang paling bahaya, ” ungkapnya.

Dan untuk pencegahan DBD, ia mengatakan bahwa fogging saja tidak cukup.

Mengaji Juga: Iklim Ekstrem di Serang, Pemkab Imbau Warga Waspada Gelombang DBD

“Aplikasi fogging tunggal tidak menghasilkan pelestarian lebih lama, dan kemungkinannya rendah untuk memengaruhi populasi nyamuk Aedes dan serupa penyakitnya, ” papar Prof. dr. Hasanuddin Ishak menggunakan presentasinya.

Penyakit DBD tunggal hingga saat ini sedang menjadi masalah kesehatan bagi masyarakat Indonesia, dengan jumlah penderita yang terus meningkat.

“Mengenai jumlahnya yang cenderung fluktuatif, yang dimaksud wilayah endemik ini berkaitan secara demam berdarah yang bermukim. Baik penderitanya maupun dengan menularkan, ” ungkapnya.

Dan di pusat pandemi seperti ini, selain harus waspada pada Covid-19, kita juga perlu waspada pada penyakit DBD. Pastikan kita mengenali gejalanya, dan juga melindungi diri daripada gigitan nyamuk dengan mematuhi obat anti nyamuk pra tidur.

Selain itu menetapkan juga melakukan 3 M untuk mencegah DBD, yaitu menguras bak mandi, menangkup tempat penampungan air, & memanfaatkan limbah barang isyarat yang bisa di periode ulang secara ekonomis.

Baca Juga: Warga Bintan Dihantui Demam Berdarah dalam Tengah Pandemi Covid-19