61279-ilustrasi-vaksin-covid-19

Punya Penyakit Penyerta, Apakah Harus Lestari Vaksinasi Covid-19?

Perkataan. com – Orang yang memiliki penyakit penyerta ataupun komorbid yang dapat memperparah status jika terpapar Covid-19, berdasarkan rekomendasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), belum boleh memiliki vaksinasi Covid-19.

Penyakit komorbid tersebut antara lain seperti hipertensi, sakit jantung, sakit melitus, autoimun, tuberkulosis, tumor, kanker, ginjal, hingga paru obstruktif kritis (PPOK).

Akan tetapi bagaimana jadinya jika Anda pemilik penyakit komorbid namun mendapatkan seruan atau SMS blast dari Departemen Kesehatan untuk disuntik vaksin? Haruskah datang?

Menurut Ketua Pengurus Pusat Perkumpulan Alergi Imunologi Indonesia, Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD, K-AI, karena ada jarak waktu antara undangan dan jadwal vaksinasi, maka sebaiknya Anda lebih dulu memeriksakan diri dan berkonsultasi dengan dokter terkait penyakit penyerta yang diderita.

Baca Juga: Pengacara Gugat Raffi Ahmad ke Pengadilan, Dinilai Memberi Model Buruk

“Sebaiknya dari dokternya, di setiap orang itu sudah tahu beta punya komorbid, datang ke dokternya periksa kondisi terakhirnya bagaimana, ” ujar Prof. Iris dalam diskusi virtual bersama suara. com, Jumat (15/1/2021).

Dari hasil pemeriksaan, biasanya tabib akan memberikan rekomendasi tetap melaksanakan vaksinasi atau membatalkan jadwal vaksinasi, dengan surat dokter yang disertakan.

Namun direkomendasikan tetap datang ke lokasi vaksinasi sesuai jadwal dan menganjurkan hasil pemeriksaan dan surat sebab dokter.

“Kalau memungkinkan, ya sudah sebaiknya bisa surat dari dokter” ungkap Prof. Iris.

Dengan surat keterangan dokter tersebut, kata Profesor Ahli Imunologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tersebut, akan memudahkan dan membantu periode pengisian form tentang riwayat lara peserta vaksinasi Covid-19.

Baca Juga: Imbau Warga Usai Divaksin Tetap Jalankan Prokes, Anies Sindir Raffi Ahmad?

“Karena ada meja 1, 2, 3, 4. Meja 2 itu yang ngisi lama, jadi jika (ada surat) dokter masing-masing karakter yang disuntik boleh atau tak boleh itu akan lebih mempermudah, ” pungkas Prof. Iris.