53452-plasma-konvalesen-pasien-sembuh-covid-19

Penuh Terapi Plasma Konvalesen, Adakah Buntut Sampingnya?

Suara. com – Terapi plasma konvaselen (TPK) diyakini sebagai salah satu upaya untuk menyembuhkan pasien yang mengidap COVID-19. Metode TPK ini sudah dikenal cukup lama. Mulai dari zaman menghadapi flu Spanyol, Sars, H1N1, hingga COVID-19.

Dr. Monica selaku Pemrakarsa Terapi Plasma Konvalesen, Sub Bidang TPK Satgas COVID-19 mengatakan bahwa dari dulu sampai sekarang, dasar kerja TPK ini sama. Hanya saja, virus yang dihadapinya bertentangan.

Prisip kerjanya yaitu dengan memindahkan plasma yang mengandung antibodi dari para penyintas Covid-19, ke penderita COvid-19yang sedang sakit.

“Istilahnya seperti antibodi instan atau booster antibodi. Antibodi para penanggung COVID-19 kurang. Jadi, ditambahin antibodi dari luar, ” ucap Monica dalam keterangan yang diterima Perkataan. com, Sabtu (6/2/2021).

Baca Juga: Tanpa Tidur Pakai Kaus Kaki Meski Kedinginan, Ini 5 Penyebabnya!

Pernyataannya kemudian, apakah ada efek samping dari terapi konvalesen ini?

Petugas medis menyusun kantong berisi plasma konvalesen dari pasien sembuh COVID-19 di Unit Tranfusi Darah (UTD) Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta, Selasa (18/8/2020). [ANTARA FOTO/Nova Wahyudi]
Petugas medis menyusun kantong menyimpan plasma konvalesen dari pasien sembuh COVID-19 di Unit Tranfusi Pembawaan (UTD) Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta, Selasa (18/8/2020). [ANTARA FOTO/Nova Wahyudi]

Sebelumnya, Monica menjelaskan bahwa secara umum, patokan pendonor plasma adalah orang dengan pernah menderita Covid-19, dengan menanamkan surat terkonfirmasi positif Covi-19 melalui swab PCR.

Selain itu, orang itu sudah 14 hari bebas dari gejala COVID-19 dan dinyatakan sembuh dari virus corona dengan membawa surat terkonfirmasi negatif COVID-19 meniti swab PCR.

Ada juga beberapa persyaratan lainnya yaitu usia pendonor harus 18 sampai 60 tahun, tidak tersedia penyakit penyerta atau komorbid serta pendonor harus dalam keadaan segar. Pendonor pun diutamakan laki-laki. Rupanya, ada alasan terkait hal itu.

“Diutamakan laki-laki bukan berarti perempuan enggak boleh. Diutamakan laki-laki yang belum pernah menerima transfusi darah sebelumnya. Kalau pun perempuan, diutamakan dengan belum pernah hamil, keguguran dan menerima transfusi sebelumnya, karena ada satu faktor yang disebut HLA yaitu Human Leukocyte Antigen, ” jelas Monica.

Membaca Juga: Risiko Hasil Samping Penyintas Covid-19 Usai Vaksin Lebih Besar, Kok Bisa?

“HLA ini berhubungan dengan faktor resiko alergi pada paru-paru yang mengandung. Itu yang merupakan efek bibir dari transfusi plasma. Tapi, hasil samping ini sudah diminimalisasikan serta dihilangkan sejak awal dengan screening donor, ” sambungnya.