81655-covid-19

Menyayat hati! Sudah Lebih dari 400 Dokter Meninggal karena Covid-19

Pandangan. com – Kematian dokter dan tenaga kesehatan menjadi duka kita bersama di tengah pandemi Covid-19 yang masih merajalela di Indonesia.

Terbaru, Pemimpin Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) merilis data jumlah dokter meninggal sebab Covid-19.

Ketua Tim Mitigasi PB IDI, dr Adib Khumaidi mengucapkan, data per 25 Juni 2021 menyebut sudah 401 dokter meninggal karena Covid-19.

“Data per 25 Juni 2021 sudah 401 dokter meninggal. Hari ini dilaporkan bertambah 4 orang sedang. Total bulan Juni 2021 saja sudah 30 sinse yang meninggal, ” ujar dr Adib dalam konvensi pers virtual, Minggu (27/6/2021).

Mengucapkan Juga: 401 Dokter dan 324 Perawat Gugur Akibat Positif COVID-19 di Indonesia

Lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia juga berimbas pada meningkatnya dokter yang menjalani pembelaan.

Menurut dokter spesialis paru, dr Erlina Burhan, SpKK, semakin banyak dokter yang positif dan terinfeksi, semakin buruk dampaknya bagi pelayanan kesehatan di Indonesia.

“Dokter yang positif terus beranjak dan harus menjalani isolasi. Sementara pasien semakin penuh. Hal ini menimbulkan penurunan kualitas pelayanan, yang berpengaruh buruk pada pasien maupun tenaga kesehatan, ” tutur dr Erlina.

Untuk itu, PB IDI bersama perwakilan dari lima organisasi profesi kedokteran di Indonesia yakni Perhimpunan Tabib Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), beserta Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), menyerukan adanya intervensi yang dilakukan biar kematian dokter dan gaya kesehatan tidak bertambah banyak.

dr Adib mengatakan bersandarkan laporan terkini, sejumlah kemudahan kesehatan seperti rumah melempem dan puskesmas mengalami penumpukan pasien Covid-19.

Baca Juga: Sebut Israel Hendak Hancur, Seorang Dokter dalam RS Amerika Serikat Dipecat

Padahal di sisi lain, pelayanan kesehatan mempunyai keterbatasan, baik dari medium dan prasarana maupun sumber daya manusia, dalam kejadian ini tenaga kesehatan.

“Perlu ada upaya tegas dan intervensi dari hulu, biar kita di hilir tak semakin kewalahan, ” mengakhiri dr Adib.