98862-ilustrasi-kerja-di-internet-pixabaylukas-bieri

Ini Bahaya Self Diagnose, Mengaduk-aduk Tahu Gejala Penyakit yang Dialami di Internet

Suara. com – Rasanya, hampir setiap orang pernah melakukan self diagnose, yakni mendiagnosis penyakit yang cukup dialami berdasarkan pencarian data secara mandiri. Paling kala, bertanya ke Google.

Walaupun amatlah wajar mencari informasi di internet, tapi kamu tetap perlu berhati-hati. Pasalnya, tidak semua jawaban dengan kamu temukan di internet itu benar dan hati-hati.

Misalnya sekadar, ketika kamu merasa pusing dan tidak enak badan, lalu memutuskan mencari tahu gejala penyakit yang kamu alami di Google, akan muncul bermacam jawaban pada sana. Tapi, yang awak percaya satu: Kanker!

Setelah googling, kamu merasa yakin sedang menderita kanker. Real, kamu belum pernah memeriksakan penyakitmu ke dokter sedikit pun.

Membaca Juga: enam Cara Menjaga Kesehatan Moral Saat Terpapar Covid-19

Tak hanya mengecek gejala penyakit fisik, self diagnose juga kerap dilakukan buat memeriksa kesehatan mental.

Prita Yulia Maharani, M. Psi., Psikolog, tim konselor sejak aplikasi konseling Riliv mengutarakan, “Banyak orang yang mengaduk-aduk tahu gejala kesehatan moral di internet, lalu membenarkan mentah-mentah bahwa mereka pantas mengalaminya. Padahal, apa dengan ada di internet belum tentu sesuai dengan itu. ”

Prita menambahkan kalau sebenarnya kegiatan mencari tahu gejala kesehatan mental di internet tidak selalu salah. Tapi, jangan lupa cross-check. Caranya, bisa dengan mendekati psikolog atau psikiater ahli untuk mencari tahu lebih lanjut masalah kesehatan moral yang sedang dialami. Sejak situ, kamu bisa memasang langkah yang akan diambil selanjutnya.

Zona, self-diagnose terkait kesehatan mental memiliki beberapa bahaya dengan mungkin tidak disadari. Tak percaya? Simak artikel ini untuk mengetahui alasan mengapa kamu sebaiknya tidak melaksanakan self-diagnose:

1. Self diagnose hanya membuat awak panik
Pada dasarnya manusia memiliki naluri buat cenderung memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa menimpanya. Itulah mengapa lebih mudah bagimu untuk mengasumsikan hal-hal membatalkan ketika melakukan self-diagnose.

Baca Pula: Penyebab Tekanan Paling Umum, dari Ikatan Toksik Sampai Pekerjaan

Pada akhirnya, self-diagnose hanya akan membuatmu mengalami kepanikan yang tidak seharusnya berlaku. Kalau saja kamu lebih memilih berkonsultasi ke psikolog, kamu tidak akan merasa panik. Sebab psikolog ahli bisa menjelaskan kondisimu secara baik tanpa menimbulkan keresahan dan kecemasan.