shutterstock_92096585

Bulu Rontok Jadi Dampak Masa Panjang COVID-19? Begini Kata Penelitian

Suara. com – Bahaya infeksi Covid-19 bukan hanya risiko dirawat di rumah sakit mematok kematian. Penelitian terbaru membuktikan pasien COVID-19 terus merasai komplikasi dan dampak jangka panjang setelah sembuh.

Patuh sebuah penelitian baru-baru ini, beberapa penyintas COVID-19 telah melaporkan kerontokan rambut jadi salah satu efek jangka panjang dari SARs-COV-2.

Sebuah studi baru-baru itu mengklaim bahwa orang yang selamat dari COVID-19 bertemu gejala bahkan setelah enam bulan pemulihan, di mana rambut rontok menjadi menjawab utama.

Meski rambut bertukar merupakan masalah umum yang dihadapi oleh banyak karakter di seluruh dunia, temuan baru-baru ini menunjukkan bahwa hal tersebut bisa sekadar menjadi gejalanya.

Baca Juga: KPAI: Banyak Anak Putus Sekolah Selama Pandemi Covid-19

Melansir dari Times Of India, sebuah penelitian yang diterbitkan The Lancet, seperempat penyintas mengeluhkan rambut rontok sebagai pengaruh samping utama COVID-19.

Para-para peneliti yang melakukan pengkajian mengevaluasi 1. 655 anak obat yang dirawat di panti sakit di Wuhan, China, di mana 359 karakter (22 persen) mengalami kerontokan rambut enam bulan sesudah dipulangkan.

Studi tersebut juga melanjutkan, bahwa rambut bertukar lebih umum terjadi pada wanita dibanding pada pria.

Tidak hanya rambut rontok saja, gejala lain juga masuk sebagai gejala COVID-19. Temuan penelitian juga melaporkan prevalensi fakta seperti kelelahan atau kelemahan otot, kesulitan tidur, dan kecemasan serta depresi.

Sementara rambut rontok dilaporkan dalam 22 persen pasien, 26 persen dengan keluhan lantaran kesulitan tidur, dan kecemasan serta depresi dilaporkan di dalam 23 persen pasien.

Baca Selalu: Sepi Job Gegara Pandemi Covid-19, Brisia Jodie Jualan Baju Tanda